Beranda > sejarah > Sholahuddin al Ayyubi Bukanlah Pencetus Peringatan Maulid Nabi

Sholahuddin al Ayyubi Bukanlah Pencetus Peringatan Maulid Nabi

Anggapan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah pencetus peringatan malam maulid nabi adalah sebuah kedustaan yang sangat nyata. Tidak ada satu pun kitab sejarah terpercaya –yang secara gamblang dan rinci menceritakan kehidupan Imam Sholahuddin al Ayyubi- menyebutkan bahwa beliau lah yang pertama kali memperingati malam maulid nabi.

Akan tetapi, para ulama ahli sejarah justru menyebutkan kebalikannya, bahwa yang pertama kali memperingati malam maulid nabi adalah para raja dari Daulah Ubaidiyyah, sebuah Negara (yang menganut keyakinan) Bathiniyyah Qoromithoh meskipun mereka menamakan dirinya sebagai Daulah Fathimiyyah.

Merekalah yang dikatakan oleh Imam al Ghozali: “Mereka adalah sebuah kaum yang tampaknya sebagai orang Syiah Rafidhah padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang kafir murni.” Hal ini dikatakan oleh al Miqrizi dalam al-Khuthoth: 1/280, al Qolqosyandi dalam Shubhul A’sya: 3/398, as Sandubi dalam Tarikh Ihtifal Bil Maulid hal.69, Muhammad Bukhoit al Muthi’I dalam Ahsanul Kalam hal.44, Ali Fikri dalam Muhadhorot beliau hal.84, Ali Mahfizh dalam al ‘Ibda’ hal.126.

Imam Ahmad bin Ali al Miqrizi berkata: “Para kholifah Fathimiyyah mempunyai banyak perayaan setiap tahunnya. Yaitu perayaan tahun baru, perayaan hari asyuro, perayaan maulid nabi, maulid Ali bin Abi Tholib, maulid Hasan, maulid Husein, maupun maulid Fathimah az Zahro’, dan maulid kholifah. (Juga ada) perayaan awal Rojab, awal Sya’ban, nisfhu Sya’ban, awal Romadhon, pertengahan Romadhon, dan penutup Ramadhon…” [al Mawa’izh:1/490]

Kalau ada yang masih mempertanyakan: bukankah tidak hanya ulama yang menyebutkan bahwa yang pertama kali membuat acara peringatan maulid nabi ini adalah raja yang adil dan berilmu yaitu Raja Mudhoffar penguasa daerah Irbil?

Kami jawab: Ini adalah sebuah pendapat yang salah berdasarkan yang dinukil oleh para ulama tadi. Sisi kesalahan lainnya adalah bahwa Imam Abu Syamah dalam al Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal h\Hawadits hal.130 menyebutkan bahwa raja Mudhoffar melakukan itu karena mengikuti Umar bin Muhammad al Mula, orang yang pertama kali melakukannya. Hal ini juga disebutkan oleh Sibt Ibnu Jauzi dalam Mir’atuz Zaman: 8/310. Umar al Mula ini adalah salah seorang pembesar sufi, maka tidaklah mustahil kalau Syaikh Umar al Mula ini mengambilnya dari orang-orang Ubaidiyyah.

Adapun klaim bahwa Raja Mudhoffar sebagai raja yang adil, maka urusan ini kita serahkan kepada Allah akan kebenarannya. Namun, sebagian ahli sejarah yang sezaman dengannya menyebutkan hal yang berbeda.

Yaqut al Hamawi dalam Mu’jamul Buldan 1/138 berkata: “Sifat raja ini banyak kontradiktif, dia sering berbuat zalim, tidak memperhatikan rakyatnya, dan senang mengambil harta mereka dengan cara yang tidak benar.” [lihat al Maurid Fi ‘Amanil Maulid kar.al Fakihani – tahqiq Syaikh Ali- yang tercetak dalam Rosa’il Fi Hukmil Ihtifal Bi Maulid an Nabawi: 1/8]

kapan maulid nabi pertama kali dirayakan

Alhasil, pengingatan maulid nabi pertama kali dirayakan oleh para raja Ubaidiyyah  di Mesir. Dan mereka mulai menguasai Mesir pada tahun 362H. Lalu yang pertama kali merayakannya di Irak adalah Umar Muhammad al Mula oleh Raja Mudhoffar pada abad ketujuh dengan penuh kemewahan.

Para sejarawan banyak menceritakan kejadian itu, diantaranya al Hafizh Ibnu Katsir dalam Bidayah wan Nihayah: 13/137 saat menyebutkan biografi Raja Mudhoffar berkata: “Dia merayakan maulid nabi pada bulan Robi’ul Awal dengan amat mewah. As Sibt berkata: “Sebagian orang yang hadir disana menceritakan bahwa dalam hidangan Raja Mudhoffar disiapkan lima ribu daging panggang, sepuluh ribu daging ayam, seratus ribu gelas susu, dan tiga puluh ribu piring makanan ringan…”

Imam Ibnu Katsir juga berkata: “Perayaan tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh agama dan para tokoh sufi. Sang raja pun menjamu mereka, bahkan bagi orang sufi ada acara khusus, yaitu bernyanyi dimulai waktu dzuhur hingga fajar, dan raja pun ikut berjoget bersama mereka.”

Ibnu Kholikan dalam Wafayat A’yan 4/117-118 menceritakan: “Bila tiba awal bulan Shofar, mereka menghiasi kubah-kubah dengan aneka hiasan yang indah dan mewah. Pada setiap kubah ada sekumpulan penyanyi, ahli menunggang kuda, dan pelawak. Pada hari-hari itu manusia libur kerja karena ingin bersenang-senang ditempat tersebut bersama para penyanyi. Dan bila maulid kurang dua hari, raja mengeluarkan unta, sapi, dan kambing yang tak terhitung jumlahnya, dengan diiringi suara terompet dan nyanyian sampai tiba dilapangan.” Dan pada malam mauled, raja mengadakan nyanyian setelah sholat magrib di benteng.”

Setelah penjelasan diatas, maka bagaimana dikatakan bahwa Imam Sholahuddin al Ayyubi adalah penggagas maulid nabi, padahal fakta sejarah menyebutkan bahwa beliau adalah seorang raja yang berupaya menghancurkan Negara Ubaidiyyah. [1]

Footnote:

[1] Untuk lebih lengkapnya tentang sejarah peringatan maulid nabi dan hukum memperingatinya, silahkan dilihat risalah Akhuna al- Ustadz Abu Ubaidah “Polemik Perayaan Maulid Nabi”

Postingan ini dikutip dari: http://moslemsunnah.wordpress.com/

  1. imunk
    3 Maret 2010 pukul 8:55 PM

    saya cuma mau bertanya apakah peringatan maulid yang dilaksanakan di negara kita seperti itu, yang saya tahu biasanya pada pelaksanannya dengan mengundang para kyai/ustadz/ulama untuk memberikan penerangan/pejelasan mengenai akhlaq Nabi sehingga kita diharapkan meniru dan menggugu beliau.

    Kan bisa membaca buku2 sejarah tentang para nabi, iya betul tapi tidak semua orang senang membaca ada yang lebih senang dan cepat mencerna dengan mendengarkan ceramah dari kyai/ustadz/ulama.

    Nah, apakah dengan tata cara seperti itu masih dikatakan bid’ah, kalau menurut saya, sebaiknya kita melihat tata cara pelaksanaanya seperti apa jika seperti yang disebutkan dari penjelasan di atas jelas itu sangat menyimpang dari ajaran islam dan bisa dikatakan bid’ah yang sesat tapi jika caranya seperti yang tadi saya sebutkan mungkin termasuk bid’ah tapi bid’ah hasanah…

    Sekali lagi mari kita lihat cara2 pelaksanaanya…

    Salam

    • 3 Maret 2010 pukul 9:25 PM

      Memang tidak bisa dipukul rata semua, tergantung masing-masing kasus. Tapi memang seharusnya kita tidak merayakannya, karena jika hal itu hasanah / baik, tentu sudah dilaksanakan oleh para Shahabat Nabi, karena mereka bisa melaksanakannya, namun tidak mereka adakan maka berarti hal itu tidak baik. Sebagaimana hadits Nabi yang bermakna bahwa segala sesuatu yang diada-adakan (bid’ah) dalam agama maka ia tertolak.

  2. Anonim
    8 April 2010 pukul 5:41 PM

    dari mana anda tau kalau para sahabat tidak pernah mengadakan maulid Nabi saw

    Dan : .. dari Al Quran, Al Hadits, atsar para Shahabat, dan penjelasan para ulama…

  3. 9 April 2010 pukul 1:14 PM

    Karena tidak ada riwayat yang sah yang sampeai kepada kita bahwa para sahabat merayakannya. Kalau memang sahabat melakukannya, tentu para ahli hadits, ulama sejarah pasti telah menukilkannya untuk kita dan tertulis di kitab-kitab hadits maupun kitab sejarah yang mu’tabar. Apalagi ini sifatnya perayaan, tentu rame-rame dan riwayatnya tentu akan mutawaatir. Dan perayaan2 seperti ini adalah satu peribadatan yang baru bisa dilaksanakan kalau ada keterangan yang jelas dan tegas dari Nabi atau dilakukan oleh para sahabat, jika memang tidak ada atau kita belum menemukan maka tidak boleh dilaksanakan, karena ibadah butuh dalil. Seharusnya pertanyaan ini ditujukan bagi saudara2 kita yang merayakan maulid: Apakah para sahabat pernah merayakan maulid Nabi? Kalau ya, di mana riwayat itu bisa didapat?
    Maaf, mas danang saya mendahului mengomentari saudara kita anonymous, lagi blogwalking nih.. barangkali mau menambahkan atau mengoreksi saya

    Dan : .. alhamdulillaah, terma kasih mas, mau membantu saya, masya Allah, insya Allah cukup banyak bermanfaat…

  4. yusuf
    10 Juli 2010 pukul 3:45 AM

    semua peringatan itu hanya sekedar seremonial belaka, bahkan hikma dari acara peringatan tiap tahunnya tidak berguna baginya, buktinya umat islam semakin hari semakin tambah hancur

    Dan : .. semoga Allah menolong umat Islam ini, karena akan tetap ada diantara umat Islam ini yang tetap berpegang teguh dengan ajaran yang benar dan murni ..

  5. 12 Februari 2011 pukul 9:40 PM

    maaf mas….kalau menurut saya memperingati maulid nabi itu bagus-bagus saja, dan itu termasuk hasanah….alasannya dalam kegiatan tersebut banyak hikmah yg bisa kita ambil, seperti nilai silaturrahim, mengingat kembali sejarah Rasul sehingga kita bisa mencontoh perilakunya yg mulia. lagi pula peringatan maulid bukan merupakan ibadah, namun lebih ke arah bukti kecintaan umat kepada nabinya……jadi termasuk bidah hasanah.

    Dan : .. semoga Allah senantiasa memberi kita Hidayah-Nya.
    jika itu hasanah/ baik, tentu nabi dan para sahabat sudah melakukannya.
    hikmah bisa kita ambil dari ajaran yang memang sudah disyariatkan, silaturahmi bisa lakukan di momen yang lain, mempelajari siroh nabi bisa kita lakukan kapan saja.
    jika kita melihat praktek perayaan maulid nabi di berbagai tempat, justru akan kita temukan banyak penyimpangan syariat.
    istilah bid’ah hasanah sebenarnya telah dikritik oleh para ulama, karena dinilai tidak tepat dan menyelisihi istilah yang digunakan oleh nabi, bahwa seluruh bid’ah dalam agama ini adalah sesat, tidak ada yang hasanah.
    ..

  6. 28 September 2011 pukul 2:06 AM

    Semoga kita dimudahkan dalam memahami Al-Quan dan sunnah nabi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: