Beranda > Hari Raya dan Waktu2 Utama > Beberapa Kesalahan Kita dalam Bulan Muharram

Beberapa Kesalahan Kita dalam Bulan Muharram

Perkara Yang menyelisihi as-Sunnah

Adapun amalan-amalan yang menyelisihi as-Sunnah dan banyak dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka menghormati dan memuliayakan bulan Muharram sangatlah banyak dan beragam. Dan berikut akan kami sebutkan dengan maksud kita dapat berhati-hati sehingga tidak terjerumus kepada amalan ibadah yang sia-sia dikarenakan tidak didasarkan kepada dalil yang kuat dan contoh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat beliau.

A. ‘Asyura Menurut Syi’ah
Tanggal 10 Muharram 61 H, adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah al-Husain bin Ali di padang Karbala.

Syi’ah menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari bergabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan kesedihan dan penyesalan. Pada hari itu mereka memperingati kematian al-Husen dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratapi al-Husen secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya. (at-Tasyayyu’ wasy Syi’ah, Ahmad al-Kisrawiy asy-Syi’iy, hal. 141. Tahqiq Dr. Nasyir al-Qifariy)

B. ‘Asyura Menurut Maryolitas Kaum Muslimin.
Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah di atas, kebanyakan kaum Muslimin menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya, pesta dan serba ria.

Dan di antara amalan-amalan yang menyelisihi sunnah yang dilakukan oleh mereka adalah:

  • Shalat dan dzikir-dzikir khusus, yang disebut dengan shalat ‘Asyura.Mereka beralasan dengan hadits palsu, seperti yang disebutkan oleh as-Suyuthi di dalam al-La’ali al-Mashnu’ah. (as-Sunan wal Mubtada’at, hal. 134)
  • Mandi Janabah, bercelak, memakai minyak rambut dan mewarnai kuku dan menyemir rambut. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.Mereka beralasan dengan hadits palsu, “Barangsiapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari ‘Asyura, ia tidak akan sakit selama tahun itu.” (Hadits ini palsu menurut as-Sakhawi, Mula Ali Qari dan al-Hakim, lihat al-Ibda’, hal. 150-151)
  • Membuat makanan khusus/istimewa, seperti membuat bubur syura yang terdapat di Sumatera Barat.
  • Do’a awal dan akhir tahun yang di baca pada malam akhir tahun. Mereka beranggapan dan berkeyakinan bahwa siapa yang membaca do’a ‘Asyura tidak akan meninggal pada tahun tersebut. (as-Sunan wal Mubtada’at, Muhammad asy-Syukairi, hal. 134)
  • Menentukan berinfaq dan memberi makan orang-orang miskin. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.
  • Memberikan uang belanja yang lebih kepada keluarga. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.Mereka beralasan dengan hadits lemah, “Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu.” (HR. ath-Thabrani, al-Baihaqi dan Ibnu Abdil Bar)
  • Setelah mandi janabat berziarah ke makam orang alim, menengok orang sakit, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali. Karena perbuatan tersebut di atas diperintahkan oleh syari’at setiap saat, dan adapun mengususkannya pada hari 10 Muharram tidak berdasar sama sekali.

C. ‘Asyura Menurut Tradisi dan Kultur Kejawen
Bulan Suro menurut istilah mereka, banyak diwarnai orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh di buat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan, dan jenis hajatan yang lainnya.

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh mereka di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi’ah animesme, dinamisme dan Arab Jahiliyah. Dulu, orang Quraisy Jahiliyah pada setiap ‘Asyura selalu mengganti Kiswah Ka’bah (kain pembungkus Ka’bah)(Lihat, Fath al-Baari, 4/246). Kini orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus pada bulan Suro juga.

Walhasil, pada dasarnya di dalam Islam, ‘Asyura tidak di isi dengan kesedihan dan penyiksaan diri, tidak di isi dengan pesta dan berhias diri dan juga tidak di isi dengan ritual di tempat-tempat keramat atau yang dianggap suci untuk tolak bala’ bahkan tidak di isi dengan berkumpul-kumpul.

[[ Penulis: Husnul Yaqin Arba’in — dikutip dari alsofwah.or.id ]]

  1. sifulan
    4 November 2011 pukul 9:43 AM

    Assalammu’alaikum
    ikhwan fillah. klo boleh, ana pingin ikut ngramaiin blog ini. ini kebetulan ada ebook waktu2 utama sepanjang masa n amalan2 sunnah di dalamnya (shahih). smg bs bermanfaat

    Judul : waktu-waktu yang utama (al aukhotul fadhiilah)

    link : http://www.mediafire.com/?2z1ee9bdljqwx9p

  2. 22 November 2011 pukul 1:21 PM

    ya dari pada ngomongin orang lain dan berbuat maksiat lebih baik berkumpul untuk berdzikir atau apapun kegiatan untuk mengingat ALLAH SWT,,,,

  3. 22 November 2011 pukul 1:30 PM

    ana yakin kalian tahu keutamaan berkumpul dalam majlis untuk belajar agama lebih dalam,berdzikir,membaca al quran,belajar kitab,,,,atau apappun hal yg berkaitan dengan ibadah sunnah,,,,,,

    adalah lebih utama dari pada ghibah(menjelek-jelekan orang lain,),apapun alasan nya,,,,ghibah tetap jelek bahkan ga ada dlm sunnah manapun bahwa ghibah di bolehkan

    coba anda renungkan,,,,,
    banyak org yg beramal lantas di tentang dg alasan ga ada contoh dari nabi saw,,

    apa anda pikir duduk-duduk membicarakan bahkan ghibah
    bahkan tab’id dan takfir ,,,, suatu hal yg di ajarkan oleh nabi saw ?,,,
    sama dong kumpulan kalian adalah kumpulan bid’ah,,

    ah anamah lebih baik baca quran atau berkumpul dalam majlis untuk mendekatkan diri pada ALLAH SWT,,,dari pada ghibah dan menjelek-jelekan orang lain,,
    wong kita aja belum tentu bagus di mata ALLAH SWT,,,,

    CAMKAN ITU KAWANKU SEIMAN

  4. jamal
    2 September 2012 pukul 7:11 AM

    semuanya tergantung iman masing2

  5. asyhar family
    5 November 2013 pukul 7:27 PM

    bulan muharram merupakan awal th bagi umat islam, jadi lbh tpt kalau kita buat muhasabah pd diri kita utk menyongsong hari depan, sesuai hadist nabi yg menganjurkan agar kt menjadi org yg beruntung jangan sampai jd org yg rugi apalagi sampai jadi org yg rusak/celaka na’udhubillah.

  6. 13 Januari 2014 pukul 11:07 AM

    itu memng benar mas , dan saya pun merasakan nya.

  1. 16 Desember 2009 pukul 7:10 AM
  2. 16 Desember 2009 pukul 7:15 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: