Beranda > Bersihkan Hati > Yakinkah kita nol kembali?

Yakinkah kita nol kembali?

yg punya foto: http://rpchandra.web.id/wp-content/ar1428h.jpg

Persepsi bahwa setelah usai Ramadhan atau pada hari raya ‘Idul Fitri mungkin terbentuk dari hadits nabi tentang ampunan Allah bagi muslim yang berpuasa atau sholat malam pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharap pahala (artinya ibadah tersebut dilakukan karena Allah, bukan karena yang lain), atau hadits lainnya tentang hal ini, juga perkataan ulama terdahulu tentang idul fitri, bahwa suatu kaum kembali seperti ketika baru lahir.

Umat Islam di Indonesia yang memiliki tradisi saling meminta maaf dan memaafkan, mungkin dimaksudkan agar selain dosa-dosa kepada Allah -ta’ala- yang diampuni, juga dosa-dosa yang berkaitan dengan hak manusia juga diampuni Allah setelah salah satu syaratnya juga dipenuhi yaitu dimaafkan oleh orang yang bersangkutan.

Lalu yakinkah bahwa kita telah bersih dari dosa? Tentu kita tidak akan berani mengatakan ya, karena memang kita tidak dapt mengetahuinya secara pasti, Allah -ta’ala- lah yang mengetahuinya. Maka tentunya setelah kita menyadari hal itu, kita tidak menjadi sombong merasa sudah bersih dari dosa, atau terlena dan kurang menjaga diri dari dosa. Apalagi mungkin ada banyak hal yang membuat ibadah Ramadhan kita belum sempurna atau bahkan belum layak.

Sudahkah ibadah Ramadhan kita ikhlash? Sudahkah ibadah Ramadhan kita benar sesuai petunjuk Nabi? Sudahkah kita melaksanakan kewajiban lainnya dengan benar? Setelah meninggalkan yang mubah (makan & minum) karena Allah, sudahkah kita benar-benar meninggalkan yang haram? Setelah banyak membaca Al-Quran di Ramadhan, sudahkah kita memahami Al-Quran dengan benar?

Mungkin banyak kita merasa malu pada Allah karena banyak jawaban belum-nya. Kita memang hanya manusia biasa yang banyak kekurangan dan salahnya. Apalagi di zaman ini, dimana tidak ada Nabi bersama kita yang dapat kita tanya jika kita berselisih. Karena banyak kita bingung tentang ilmu, apa yang beliau tuntunkan pada kita. Nabi yang bisa menasehati kita untuk ikhlash dan berakhlak baik, kepada Allah dan baik kepada makhluk-Nya. Yah, betapa kita merindukan Beliau, tapi kita tentu ingat bahwa kita menyembah Allah bukan nabi kita, kita menyembah Allah Yang Maha Hidup yang selalu memberi Hidayah pada siapa yang dikehendaki-Nya.

Atau mungkin diantara kita ada yang merasa telah melakukan semuanya dengan baik? Jika demikian pun, tentunya dia tidak akan berani memastikan bahwa ibadahnya pasti diterima. Dia justru takut kalau ternyata ibadahnya itu mengandung riya dan tidak diterima. Tidak ada yang yakin jika dosa kita nol kembali, dan memang tidak layak kita memastikannya karna memang kita tidak mengetahuinya. Kita hanya berharap Allah mengampuni kita atas kesalahan kita. Kita tidak hanya mohon ampun ketika Ramadhan, kita harus terus memohon ampun, bahkan mungkin karena kekurangan / kesalahan kita ketika Ramadhan.

Semoga Allah mengampuni kita, dan memberi hidayah kepada kita. Semoga kita diberi ilmu yang bermanfaat, ilmu tentang keyakinan dan ibadah yang benar. Semoga kita ditolong untuk semangat dalam beribadah. Semoga Ramadhan meninggalkan untuk kita pelajaran berharga untuk menjalani hidup kita ke depan, agar semakin baik, hingga kita bertemu dengan Ramadhan lagi, atau kita bertemu dengan Allah dalam Ridho-nya. Amin Ya Allah.

[dan]

  1. 25 September 2009 pukul 8:57 AM

    Emmm… cukup sulit dikatakan, namun masalah non atau tidak nol ada yang menentukan mas.

    >>>>> jawab: emmm nol ya? ya mgkn…

  2. 25 September 2009 pukul 10:08 PM

    Salam Takzim
    waduh jadi kaya guru bahasa nih, saya kurang paham dari mana Takzim bersumber hanya kat ini nikmat aja terketik, tanpa melihat keyboard sudah tertata hehehe, mampir lagi nih mas, barangkali ada yang baru..
    Salam Takzim Batavusqu

    >>>>> jawab: oo gituu…, ya udah, soalnya bahasa adl salah satu hal yg menarik. Mgkn bahasa dari hati Mas..🙂. O iya.. maaf, belum ada yg baru… Terima Kasih atas kunjungannya. Semoga Allah -ta’ala- memberi Anda kebaikan. Salam.

  3. 27 September 2009 pukul 4:42 PM

    Ya kadang orang dengan santainya mengucapkan, kita nol2 yawh, baru no2 sesama Manusia, bagimana hubungannya dengan Tuhan…

    Memang sich, tidak menyalahkan namun harus memperkuat konsep pemahaman tersebut kembali…

    Salam semangat dari Bocahbancar….

    >>>>> jawab: Trims yaa… benar…salam 🙂

  4. wahyu am
    28 September 2009 pukul 2:56 PM

    dimulai dari nol y gan😉

    >>>>> jawab:😉

  5. 28 September 2009 pukul 4:08 PM

    Tak ada gading yang tak retak.
    Seyakin itu pula saya dalam berpuasa. Pastilah tidak sempurna jika ditimbang dengan kriteria Nabi Yang Mulia.
    Maka, saya setuju dengan artikelnya Mas. Permohonan ampun atas khilaf tetap harus dipanjatkan. Terimakasih untuk artikel yang menggugah ini. Salam hormat.

    >>>>> jawab: Semoga Allah -ta’ala- mengampuni kita. Terima kasih. Salam.

  6. 29 September 2009 pukul 7:27 AM

    salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini saya Agus Suhanto, posting yg bagus🙂
    lam kenal yaa

    >>>>> jawab: trims, salam kenal jg,🙂

  7. 29 September 2009 pukul 1:01 PM

    amin, saya tidak yakin bahwa saya kembali ke nol. Ramadhan dan idul fitri hanya untuk sebagai barometer kita beribadah dibulan lainnya

    >>>>> jawab: hmm…🙂

  8. 29 September 2009 pukul 2:10 PM

    Yang paling inti adalah kita sudah memaksimalkan ibadah waktu ramadhan kemaren …😀

    >>>>> jawab: kalo bgitu sih memang sudah bagus…

  9. 2 Oktober 2009 pukul 10:56 AM

    insyaAllah bro, asalkan kita bener2 ikhlas berserah diri dan bertaubat…

    >>>>> jawab: semoga….

Comment pages
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: