Beranda > sejarah > Kartini Dari Gelap Menuju Cahaya Islam

Kartini Dari Gelap Menuju Cahaya Islam

Kartini

Dari Gelap Menuju Cahaya Islam

Raden Ajeng Kartini dianggap banyak orang sebagai wanita yang memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, berkiblat ke Barat dan mengkritisi Islam. Ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar karena jika diteliti, pada akhirnya Kartini mengenal kebenaran dan keindahan Islam, beliau membelanya serta mengkritisi Barat. Namun hal ini justru tak banyak diungkap.

Pada awalnya memang pola pikir Kartini seperti Barat, ini karena dia didekati oleh para tokoh Barat dan Kristen sebagai teman surat-menyuratnya sehingga dia kagum terhadap kebaikan dan pemikiran Barat. Beberapa diantaranya adalah:

J.H. Abendanon, ia ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan. Abendanon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye. Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang Islamnya teguh, untuk kemudian dibaratkan. Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.

Dr. Adriani, ia seorang ahli bahasa serta pendeta yang bertugas menyebarkan Kristen di Toraja, Sulawesi Selatan.

Stella (Estelle Zeehendelaar), ia adalah wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.

Nellie Van Kol (Ny. Van Kol), ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Pada awalnya, ia bermaksud untuk mengkristenkan Kartini, dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpedulian terhadap agama.

Kartini belum mengenal Islam karena pengajaran Islam dikekang oleh Belanda, bahkan pengajaran al-Qur-an tidak boleh diterjemahkan sehingga umat Islam tidak tahu ajaran agamanya.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al-Qur-an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca al-Qur-an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.” [kepada Stella, 6 November 1899]

Sampai suatu saat Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yang sedang diberikan, tafsir al-Fatihah, oleh Kyai Sholeh Darat. Setelah selesai, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

“Kyai, perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya apabila seseorang yang berilmu namun menyembunyikan ilmunya..?”

“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”

“Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Qur-an (surat al-Fatihah), yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Qur-an dalam bahasa Jawa. Bukankah al-Qur-an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Tergugah dengan kritik itu, Kyai Sholeh Darat kemudian menerjemahkan al-Qur-an ke bahasa Jawa dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Qur-an jilid pertama yang terdiri atas 13 juz, dari surat al-Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat beliau menikah dengan R. M Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Kyai Sholeh Darat meninggal pada saat baru menerjemahkan satu jilid tersebut. Namun satu jilid itu sudah membuka pikiran Kartini mengenai Islam.

Firman Allah dalam surat al-Baqoroh ayat 257: “…min azh-zhulumaati ila n-nuur” yang artinya “..dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)”, oleh Kartini terjemahan ayat tersebut diungkapkan dalam bahasa Belanda dengan kalimat Door Duisternis Tot Licht. Belakangan, Armijn Pane, sastrawan Nasrani, menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini dan ungkapan tersebut diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini pun berubah setelah belajar Islam. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif. Sepertinya, Allah telah menunjukkan hidayah Islam kepadanya.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” [kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh para aktivis feminisme dan emansipasi, namun agar lebih cakap dalam menjalankan kewajibannya sebagai ibu.

Kartini menulis, “Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Pandangan Kartini terhadap Barat pun berubah, Kartini menulis:

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” [kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902].

Kartini juga menyadari adanya upaya kristenisasi secara terselubung yang dilakukan oleh teman-temannya. Kartini menulis:

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi?… Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903].

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” [kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902].

Sudah takdir Allah, Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan putranya. Ia meninggal pada usia muda, 25 tahun. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam.

[dari majalah el-Fata (irv-sy)]

  1. 21 April 2009 pukul 2:38 PM

    wah..saya baru tau cerita ini..
    nice posting!!!

    >>>>>jawab: …saya juga….. trims…

  2. 25 April 2010 pukul 4:11 PM

    masya Allah… terima kasih..

  1. 21 April 2010 pukul 3:57 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: