Beranda > agama > Sekilas Islam, Kelompok, Metode.

Sekilas Islam, Kelompok, Metode.

Hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang haq, mungkin kita hanya bisa berusaha dan berdo’a agar dapat berada dalam kebenaran itu.

Zaman kita merupakan ujian yang hebat karena kita tidak dapat bertemu dengan Rosul yang menjelaskan kepada kita secara langsung . Kita hanya bisa mempelajari peninggalan beliau berupa hadits, tentunya yang bisa dibuktikan keotentikannya sesuai kemampuan manusia, termasuk Al-Quran.

Maka tentunya yang paling mendekati kebenaran adalah yang bisa melandasi pendapatnya dengan perbendaharaan peninggalan nabi yang otentik tersebut dan berusaha memahaminya dengan niat yang ikhlash, bersih dari hawa nafsu dan amarah, akal sehat dan hati nurani serta hidayah dari Allah ta’ala.

Itu biasa disebut sebagai salafy. Jika metodenya sama seperti itu, walaupun nantinya masih terjadi perbedaan hasil ijtihad, maka masih termasuk dalam salafy / ahlussunnah. Seperti al-Imam Abu Hanifah yang banyak melandaskan pendapatnya dengan logika, karena belum mendapati hadits yang berkenaan dengan masalah yang dikaji. Akan tetapi beliau sudah mewanti-wanti agar tidak mengikuti pendapatnya jika nantinya diketahui bahwa pendapatnya itu ternyata bertentangan dengan suatu hadits yang shohih.

Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang atau kelompok menggunakan metode yang berbeda. Ia mendasarkan pendapatnya hanya dengan pikirannya semata, tidak berusaha meneliti keotentikan hadits (yaitu berdasarkan sanadnya), akan tetapi menilai hadits secara makna dengan pikirannya. Ia tidak mengumpulkan seluruh hadits yang otentik untuk kemudian menganalisa kesimpulannya, akan tetapi mencari hadits untuk dipaksakan agar mendukung hipotesanya.

Atau jika ada seseorang yang mendasarkan penilaiannya terhadap hadits bukan dengan sanad, akan tetapi dengan klaimnya bahwa ia sudah dapat berkomunikasi langsung dengan Allah dan Allah secara langsung telah menunjukkan kepadanya apakah suatu hadits itu otentik atau tidak.

Atau seseorang yang sama sekali tidak peduli mendasarkan pendapatnya, tetapi hanya mengikut pada seseorang tokoh, atau keumuman orang, dan atau hawa nafsunya sendiri.

Itulah mungkin beberapa yang membedakan salafy / ahlussunnah dengan kelompok yang lain.

Adapun orang / kelompok yang menyebut dirinya salafy, maka itu mungkin hanyalah bermaksud untuk menjelaskan metode yang mereka anut bukan bermaksud mengklaim bahwa merekalah yang pasti paling benar. Sekalipun mungkin juga ada orang atau kelompok yang mengklaim bahwa dirinyalah yang pasti salafy, dan yang lain pasti bukan. Tentunya klaim mereka pun belum tentu benar.

Solusinya adalah dengan terus belajar, meneliti dengan sungguh-sungguh untuk dapat memahami, menganalisa, sehingga mendapatkan hasil yang benar. Tentunya dengan niat yang baik dan usaha yang benar.

Bahasa Arab fushah (ilmiah / asli) adalah modal utama untuk bisa mempelajari peninggalan2 nabi. Karena Allah telah memilih bangsa Arab dan Bahasa Arab sebagai pengantar risalah-Nya di zaman akhir ini. Maka menguasai bahasa tersebut merupakan syarat mutlak dalam menjalani penelitian ini.

Kemudian perhatikan bagaimana para ulama sunny / salafy / ahlusunnah dalam ilmu hadits dan ushul fiqh. Mereka telah menerapkan metodologi yang memungkinkan manusia dapat meneliti dan memahami keotentikan peninggalan nabi sesuai kemampuan manusia dengan akal sehatnya.

Semoga Allah ta’ala memberi kita hidayah kebenaran.

Salafy bukan Wahabi dan Wahabi bukan Salafy

Mohon jangan mengidentikkan Salafy dengan wahabi, karena musuh-musuh salafy lah yang menuduh atau menjelek-jelekkan salafy dengan mengatakannya sebagai wahabi. Sedangkan istilah wahabi sendiri sebenarnya adalah sebutan untuk kelompok sempalan dari khawarij yang jauh berbeda dengan salafy.

https://danangwirawan.wordpress.com/2009/08/26/wahabi-sebenarnya/

Karena Allah telah memilih bangsa Arab sebagai pengantar agama-Nya kepada manusia, maka tentunya ada budaya yang terikut seperti bahasanya, atau akhlaknya yang baik.

Akan tetapi Islam juga menambahkan apa yang tidak ada / bukan budaya Arab. Contohnya Jilbab / Hijab bagi wanita, ia bukanlah budaya Arab karena bangsa Arab sebelumnya tidak mengenakan Jilbab / Hijab. Akan tetapi Islam memerintahkannya sehingga menjadilah ia sebagai budaya Arab Islam.

Islam juga menghapus atau melarang budaya Arab yang tidak benar seperti tawasul dengan ruh orang sholeh, tathoyur, merendahkan wanita, suka berperang antar suku, dan sebagainya.

Wallahu a’lam.

Semoga Allah ta’ala memberikan pada kita, ampunan, rahmat dan hidayah-Nya.

  1. 2 September 2009 pukul 1:10 PM

    Ana setuju…
    semoga manusia tidak berfikir dangkal dalam menyikapi sesuatu dan jangan menganggap syari’at Islam sebagai budaya Arab seperti yang dicetuskan JIL (jaringan iblis laknatullohalaihi) serta kaum tradisionalis …

    >>>>>jawab: Trimakasih atas komentarnya… manusia memang butuh belajar, jika memang niatnya baik tentu kan berusaha agar jadi lebih baik…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: